Slide Show

September 19, 2011

Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng


Penulis: Jostein Gaarder

Penerjemah : A. Rahartati Bambang

Penerbit : Mizan

Cetakan Pertama : Februari 2006

ISBN : 979-433-414-6



Pertama kali membaca tulisan Gaarder, saya diajak berkunjung ke perpustakaan ajaibnya, sampai saya merasa curiga jangan-jangan perpustakaan itu bener-bener nyata..


Kali ini saya diperkenalkan kepada seorang anak laki-laki yang bernama Peter. Peter kecil tumbuh dengan imajinasi yang luar biasa, ia pandai berkata-kata dan memiliki kemampuan yang sangat spesial dalam memainkannya. Terkadang ia bisa begitu mudahnya membalas hinaan temannya yang telah adu pukul dengan dia. Peter tahu betul kekuatan memainkan kata-kata. Dalam berimajinasi, ia juga memiliki kelebihannya, ia benar-benar bisa menciptakan dunia khayalannya sendiri. Jiwa bisnisnya pun sudah muncul sejak kecil, ia ”menjual” pekerjaan rumah kepada teman-teman sekelasnya dengan imbalan yang beraneka macam. Tergantung bagaimana Peter menginginkannya, dan dia benar-benar pandai ”menjual” nilai kepada teman-temannya.


Ketika Peter berumur hampir 18 tahun, Ibunya meninggal. Selama ini Ibu adalah tempat Peter menceritakan berbagai kisah hasil imajinasinya. Setelah ibunya meninggal, ia bingung kepada siapa lagi harus bercerita. Anehnya, meski ia pandai sekali berkata-kata, ia tidak mau menjadi penulis novel.


” Aku tidak akan pernah menulis sebuah novel. Aku tidak mampu berkonsentrasi pada sebuah cerita. Bila aku mulai menganyam sebuah fabel, dengan segera fabel itu akan tersedot ke dalam empat atau delapan fabel lainnya”, Hal. 171


Ia menceritakan kisah-kisahnya kepada banyak gadis yang ia kencani, semuanya tentu dengan cerita yang berbeda. Sampai suatu hari ia membuat Writers aid (aid seperti dalam first aid kit) yang maksudnya pertolongan bagi penulis yang mengalami kebuntuan ide saat menulis. Peter dengan segera menjadi laba-laba yang menenun ceritanya ke banyak penulis. Ia menyuntikkan ide-ide segar yang terus berbeda, memberikan panduan jalan ceirta, dan ia mendapatkan bayaran yang cukup besar dari ide-ide ceritanya tersebut. Di antara kisah-kisah yang diceritakan Peter adalah cerita tentang gadis pemain sirkus bernama Panina Manina, cerita ini hanya ia ceritakan ke orang yang benar-benar ia cintai. Sampai ternyata cerita ini ikut menjadi bagian dari jalan hidupnya sendiri.


Membaca Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng menjadi satu hiburan yang berbonus-bonus menurut saya. Gaarder dengan mudah menyisipkan cerita-cerita di dalam cerita inti buku ini. Hal ini karena kemampuan imajinasi Peter, sang Tokoh utama, yang sedemikian banyaknya. Di antara cerita Peter, tersebutlah cerita tentang pembunuhan rangkap tiga, si kembar di Vietnam, konstanta jiwa, Ras manusia yang tersisa, dan masih banyak lagi.


Seperti biasa, Gaarder menyelipkan filosofi filosofi kehidupan di dalam ceritanya dengan anggun. Saya ambil contoh :


” Miliaran tahun dibutuhkan untuk mengembangkan kesadaran manusia, dan kau ingin menghapusnya? Lalu bagaimana dengan keajaiban dari kehidupan? Itu jauh lebih penting dari apa pun di seluruh semesta.”

Hanya saja saya menemukan kejanggalan di halaman 388, di baris kedua ditulis ” sembilan kali sembilan ubin, karena itulah kebenaran yang paling mendasar,....” di situ tertulis demikian padahal kalimat selanjutnya ” Inti dari eksistensi adalah persegi empat yang terdiri dari empat puluh sembilan ubin hijau dan merah di kamar 15.....”. sebelumnya cerita ini didahului dari enam kali enam ubin, dan setelah bagian ”empat puluh sembilan” ini adalah delapan kali delapan ubin. Jadi.. bukankah yang lebih tepat di baris kedua di halaman 388 tadi yang bertuliskan sembilan kali sembilan ubin itu seharusnya menjadi tujuh kali tujuh ubin? Mungkin editor bisa mengoreksinya lagi, tapi kalau sudah benar ya.. berarti saya yang belum paham maksudnya.


Secara keseluruhan, 4 bintang saya rasa layak disematkan untuk buku ini. :)

September 11, 2011

Senyum


Penulis : Raina Telgemeier
Pewarnaan : Stephanie Yue
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Juni 2011
Tebal : 224 halaman, paperback
ISBN : 978-979-22-7093-8
Novel Grafis

Bagaimana jadinya ketika seorang anak berusia 11 tahun harus bermasalah dengan giginya? Raina Telgemeier berbagi kisahnya untuk kita. Suatu malam, Raina terjatuh ketika berlarian dengan teman-temannya, akibatnya gigi depannya satu melesak ke dalam gusi dan yang satunya copot. Dari situlah ”gigi” telah mendapatkan porsi spesial di hari-hari Raina ke depannya. Bertemu dengan dokter gigi yang ternyata banyak macamnya, berakrab-akraban dengan gips, kawat gigi, headgear, gas tawa, novocaine. Saya nggak bisa ngebayangin rasanya -__-”

Tapi Raina juga gadis normal biasa, dia menghadapi pelajaran-pelajaran yang semakin sulit, diam-diam mulai naksir cowok, kisah jerawat dan perlakuan teman-teman yang menganggapnya beda juga turut mengisi hari-hari Raina. Kebanyakan teman mendukung Raina, tapi teman dekatnya malah sering memperolok Raina. Tega-teganya ya? Saat Raina lagi kurang kepercayaan diri, eh malah dipermainkan.

Tapi Raina seorang gadis yang kuat, dia emang bukan kupu-kupu sih, jadi wajar aja kalo dia ragu, beneran bisa normal lagi nggak hidupnya. Raina buat saya adalah sosok gadis yang aslinya biasa saja, tapi perjuangannya itu yang bikin dia luar biasa. Saya selalu salut buat orang-orang yang berani memakai alat bantu untuk gigi mereka, meski saya sempat mau pakai kawat gigi tapi sama dokter disaranin nggak aja. Bukan apa-apa, saya sering dislokasi rahang kalau terlalu lebar membuka mulut, jadi kunjungan ke dokter gigi adalah kunjungan yang bikin deg-degan, soalnya dokter juga khawatir harus masuk UGD karena rahang saya bermasalah. Dulu sempat sakit-sakitan sih, karena ada lubang di gigi, tapi tekad nggak mau sakit itu yang membuat saya berani duduk di kursi pasien dan menerima saran dokter buat ditambal gigi daripada dicabut. Mungkin tekad itu juga yang dirasakan Raina selain keinginan untuk bisa senyum tanpa ada tambahan ”peralatan” di giginya.

Awalnya selain karena review teman-teman yang bilang ini novel grafis yang keren, saya tertarik juga karena covernya yang sederhana. Gambar senyum di halaman covernya itu yang tidak biasa. :D Novel grafis ini bagi saya penuh pesan sosial, diantaranya mengolok-olok teman itu nggak baik serta sikap positif yang akhirnya timbul di diri Raina setelah ia tidak melihat tampilan luarnya saja. Ow yang penting juga, tersenyumlah!!

”Aneh, sesuatu terjadi saat kau tersenyum pada orang, mereka balas tersenyum.” Hal. 111
”Dan aku takkan membiarkan kalian mempermainkanku lagi! ”, Hal. 191
Kecantikan itu bukan apa-apa yang terlihat dari luar, tapi ia terletak di dalam hati, dalam diri manusia. :)
5/5 bintang untuk Senyum-nya Raina. I love it.
September 10, 2011

The Book With No Name

Penulis : Anonymous
Penerbit : Kantera
Tebal : 473 halaman, paperback
Cetakan Pertama : Juni 2011

The Book with no Name adalah sebuah buku yang penulisnya anonim. Isinya menceritakan sebuah kota yang bernama Santa Mondega, yang tidak akan kalian temukan di peta. Kenapa? Karena kota ini banyak misterinya!!

Tersebutlah sebuah batu yang disebut Mata Rembulan, hilang dari biara Hubal. Batu itu harus segera ditemukan sebelum kegelapan menyelimuti seluruh kota tiba saat gerhana. Batu itu memiliki kemampuan istimewa, yang bisa mengakibatkan kejahatan dan kekuatan mistis memiliki kota mereka sendiri. Dua orang biarawan diutus pergi ke Santa Mondega untuk menemukan batu itu dan membawanya pulang.

Sayangnya, batu itu juga menjadi rebutan banyak orang. Harganya yang snagat besar menjadikan batu itu sering berpindah tangan dari satu pembunuh ke pembunuh keji yang lain. 5 Tahun lalu, ketika terjadi gerhana, di Santa Mondega ada pembunuhan besar-besaran. Sang pemuda yang dikenal sebagai Bocah Bourbon memiliki tingkat kebrutalan yang luar biasa dalam pencariannya akan Mata Rembulan. Setelah pembunuhan keji yang ia lakukan, kabarnya Bocah itu telah mati, atau hilang. Tapi jangan percaya, sebab menjelang gerhana tahun ini, Bocah Pembunuh itu kembali lagi.

Nah, di perpustakaan Santa Mondega juga ada sebuah buku yang nggak ada judul dan nama pengarangnya. Sialnya, setiap orang yang pernah baca buku itu selalu dibantai. Polisi juga sudah mulai mengaitkan berbagai macam pembunuhan ini dengan kehadiran Bocah Bourbon, tapi sepertinya mereka juga takut terhadap Bocah Bourbon yang telah kembali itu. Lalu siapa yang berhasil memiliki Mata Rembulan? Lalu kenapa Bocah Bourbon itu hanya muncul setiap akan ada gerhana?

Ini buku dengan detail penuh darah yang pernah saya baca. Entah mengapa kesan horornya nggak ada, yang berkesan hanya darah yang berceceran di banyak halamannya. Banyak kisah mistis yang diselipkan di dalam buku ini, kisah Vampir, Orang-orangan sawah, serta beberapa kisah yang diceritakan di buku tak berjudul. Awalnya sih sempet bosen juga dicekokin kebrutalan yang ada di Santa Mondega, tapi ternyata akhir-akhirnya seru!! Kalau kita cermat memerhatikan detail-detail ceritanya, kita bisa nebak endingnya. Tapi kalo nggak jeli, mungkin akan kaget dengan endingnya yang berkesan ”ujug-ujug”. Oh ya, buku ini juga banyak mengambil banyak tokoh dari film atau buku yang kemudian disisipkan dengan pas di ceritanya. Mungkin biar punya gambaran juga kali ya..

Yang bikin serem justru simbolnya.. Saya ngga ngerti kenapa pake pentagram dan Kepala kambing di sampulnya.. bukannya itu simbol .... ah ya sudahlah. Semoga bisa lebih kalem lagi cover edisi selanjutnya.
September 01, 2011

99 Cahaya di Langit Eropa


Penulis : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Tebal : 414 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-979-22-7274-1
Buku traveling yang tidak biasa. Itu kesan saya setelah membaca keseluruhan buku ini. Cara penyampaian penulis terhadap kota-kota istimewa di Eropa begitu memikat. Terlebih keluasan sejarah, rekam jejak yang cukup detail, dan bahasa yang sederhana membuat saya bersemangat untuk segera menuntaskan baca buku ini.
  
Penulis mengajak kita berjalan-jalan dulu di Wina, mengunjungi Restoran spesial, karena menjungkirbalikkan konsep ekonomi di dunia. Lalu berjalan-jalan ke Museum Kota Wina untuk bertemu Kara Mustafa Pasha, seorang pemimpin penaklukan Islam Ottoman yang gagal menaklukan kota Wina. Sebuah potret yang mengabadikan warisan pengetahuan, bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Oleh karena itu, penyebaran Islam pun perlu dilakukan secara baik-baik, dengan cinta dan kasih sayang, bukan dengan pedang dan meriam yang akhirnya berujung kekalahan. 
 
    Kara Mustafa Pasha

Perjalanan kedua dalam mencari jejak-jejak Islam di Eropa, adalah ke Paris. Pusat peradaban paling maju di dunia. Di Museum Louvre, kita diperkenalkan dengan Kaligrafi Arab Kuno, Pseudo Kufic di sebuah lukisan terkenal, The Virgin and The Child. Sebuah kalimat tauhid  bertahta di pinggir hijab Bunda Maria. Penasaran? Anda perlu membaca buku ini untuk mengorek keterangannya. :) Di Paris, ada pemandangan satu garis yang indah. Air mancur besar, Monumen Obelisk Mesir, Jalan Champs-Elysees dan Monumen Arc de Triomphe semua membentuk garis lurus sempurna. Yang kalau dipanjangkan jauh ke timur tenggara, berujung ke Mekkah. 

 
        The Virgin and The Child

Pada bagian ketiga perjalanan, kita menuju Cordoba dan Granada. Di sini ada Mezquita yang terkenal, bangunan Masjid yang berubah fungsi menjadi gereja. Bangunan seluas 24.000 m2 itu beraksen merah dan putih. Kaligrafi arab masih menghiasi atap, meski penuh ”luka” karena dicongkel dan dihapus jejaknya. Mihrab yang dijeruji menambah kedukaan yang timbul karena  menjadi refleksi kejayaan Islam sekaligus kejatuhannya.

 
                        Mezquita

Di Granada, ada Al-Hambra, sebuah benteng pertahanan yang menorehkan jejak penaklukan Kristen Spanyol yang terus menggusur wilayah Kesultanan Islam. Benteng yang akhirnya menjadi saksi bisu kekalahan Islam lainnya, dengan diserahkannya Granada dari Sultan terakhir ke tangan Isabella dan Ferdinand yang akhirnya membaptis seluruh warga Granada untuk memeluk agama Kristen. Tindakan yang sebenarnya ditentang oleh semua golongan, termasuk Kaum Kristen asli penduduk Granada.
 
                    Al Hambra
Bagian Empat buku ini adalah perjalanan ke Istanbul, Turki. Negara yang begitu bangga akan dualitas identitasnya. Satu kaki menjejak Eropa, dan Kaki satunya menjejak Asia. Di Istanbul, kita diajak mengunjungi Hagia Sophia, bangunan yang sempat menjadi Gereja, sempat menjadi masjid. Dengan keanggunan kaligrafi Islam raksasa, motif lukisan Yesus dan Bunda Maria, kini bangunan itu diwakafkan untuk menjadi museum demi kepentingan negara. Perjalanan ini Juga mengunjungi keindahan Masjid Biru dan Istana Sultan Topkapi.

 
                    Hagia Sophia

Buku ini memperkaya saya akan keindahan Islam di Eropa. Ketika perbedaan agama hidup dengan selaras, tapi akhirnya juga agama yang dibawa- bawa demi memenuhi ego manusia untuk berkuasa. Buku ini buku traveling yang juga mengingatkan saya untuk menjadi agen Islam yang baik, yang menyebar damai, keteduhan dan keindahan di komunitas nonmuslim. Apalagi ketika Islam menjadi agama minoritas. Buku ini membawa kita kembali ke abad-abad bangkitnya Eropa setelah melewati Masa Kegelapan.
  
” Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan.”  Hal.8
 
Buku yang penuh dengan percakapan-percakapan tentang indahnya Islam, keteduhan dan kegigihan orang-orang yang too good to be true but they are really true dalam mendakwahkan Islam yang rahmat bagi seluruh Alam, bukan hanya rahmat bagi orang Islam saja.  :)
Agustus 30, 2011

Hold Me Closer, Necromancer


Penulis : Lish McBride
Tebal : 460 halaman
Penerbit : Atria
Cetakan Pertama : Juni 2011
ISBN : 978-979-024-481-8

Namanya Samhain Corvus Hatfield, biasa dipanggil Sam, terkadang dipanggil Sammy. Sebenarnya dia hanya seorang remaja laki-laki biasa, putus kuliah di tengah jalan, karier pekerjaan sebagai koki gorengan di sebuah restoran siap saji, hidup dikelilingi teman, apartemen yang semrawut. Semuanya tak ada yang special, kecuali kenyataan bahwa dia adalah seorang Necromancer. Ya, Necromancer yang berhubungan dengan mayat, kematian, dan segala yang berhubungan dengan arwah.

Pada awalnya Sam juga tak tahu dirinya adalah seorang necromancer sampai pertemuannya dengan seorang laki-laki di restoran tempat Sam bekerja. Douglas, nama laki-laki itu, adalah seorang Necromancer utama di Seattle. Dia juga seorang Dewan yang bertugas mengatur kehidupan makhluk ”lain” yang hidup bersama manusia di Seattle. Semenjak pertemuannya dengan Douglas, Sam mulai merasa kehidupannya berubah menjadi lebih mengerikan. Kenyataan bahwa ada keluarganya yang menutupi kemampuannya sebagai Necromancer semakin memperburuk keadaan. Douglas mulai mendekati dan mengancam kehidupan Sam dan orang-orang terdekatnya. Brooke, sahabatnya berubah menjadi mayat hidup dan Sam tak mau jatuh korban lagi dari siapapun di antara orang terdekatnya.
Sementara itu, Douglas diam-diam menculik seorang hibrid manusia serigala untuk diteliti, lalu Douglas juga menculik Sam untuk menjadikannya murid. Namun ternyata Douglas mengambil perhitungan yang salah, Sam jauh lebih kuat daripada yang Douglas kira meski Sam tidak menyadari kemampuannya sendiri. Hidup Sam dalam bahaya, juga gadis hibrid yang dipenjara bersamanya oleh Douglas. Dan sepertinya Douglas sedang menyiapkan rencana kotor yang tersembunyi. Bisakah Sam menyelamatkan diri? Atau justru Douglas yang akhirnya memenangkan kekuasaan?
Hold Me Closer, Necromancer adalah novel yang banyak direkomendasikan teman-teman saya. Tadinya ketika mendengar kata necromancer, yang ada di bayangan saya adalah sejenis dengan ceritanya John Dee di Nicholas Flamel atau kaya film Ghost Rider yang bisa berhubungan dengan arwah-arwah. Ternyata novel ini jauh dibandingin sama cerita-cerita yang pernah saya baca tentang ”hal dunia hitam”. Gaya penulis menceritakan hidup Sam penuh dengan humor yang khas Amerika. Meski ceritanya cukup drmatis alias penuh darah-mayat-arwah dan berkesan penuh ilmu hitam, tapi pembawaannya yang ada di jaman modern begini malah jadi seru kalo dibayangin beneran. Sayangnya typo di buku ini masih perlu dibenahi, kesalahan penulisan tokoh (Ramon jadi Sam), dan beberapa kesalahan eja cukup membuat nggak nyaman waktu baca. Tapi overall, buku ini ceritanya keren, seru, ada romantisnya juga meski rada ”vulgar”. Wajib dibaca bagi penggemar YA atau penggemar fiksi fantasi. :)

Salam,

Salam,