Hari ini saya kedatangan tamu lagiii... Wardah si pemilik blog Melukis Bianglala
Sebenernya sih udah dari Desember kemarin rencana Guest postnya, tapi kayaknya Wardah lagi sibuk banget jadi baru sekarang bisa saya postiing.
Mumpung masih awal Januari, simak yuk tentang 5 buku yang...... ya gitu deh.. menurut dia.
5 Buku yang Bikin Perasaan Campur Aduk
Awalnya mau bikin 5 buku paling mahal yang dibeli tahun
ini, sesuai usul Buban (Yeah, that’s me. Buban. *kunyah guling*) beberapa waktu
lalu di grup WA Joglo. Sayangnya nih, 4 dari 5 buku itu isinya Tetralogi Buru,
yang sumpah nggak seru banget kalau diceritain habis belinya langsung ngeborong
pagi-pagi buta ke Togamas (dan belum dibaca…… ya kan, Wardaaah? Ngoahaha). Ntar
tulisan ini jadinya pendek doang dong. Seratus kata aja nggak sampai. Yaudah
deh saya bikin 5 buku yang lain.
Berhubung baru aja selesai baca buku yang bikin mewek, ya
sekalian aja saya nulis soal buku-buku di tahun ini yang bikin perasaan campur
aduk (disertai mewek-mewek dikit atau misuh-misuh banyak). (O…ke… Mari kita
simak….)
1.
Last
Forever - Windry Ramadhina
Windry merupakan salah satu penukis favorit saya. Buku ini
akan masih berada di rak segera-dibaca jika beberapa orang teman sudah tidak
sabar ingin meminjamnya. Akhirnya, pada suatu siang hari Sabtu yang panjang,
saya mengambil novel ini dari rak dan mulai membaca.
Last Forever bercerita tentang dua orang yang enggan
berkomitmen tapi dipaksa harus berkomitmen, Samuel dan Lana. Untuk cerita lebih
jelas, silakan baca sendiri daripada saya
spoiler. Rencananya sih saya pengen mengulas novel ini di blog, tapi apalah
saya ini hanya butiran micin, nulis review aja nggak kesampaian (*siram kuah
sop).
Saya menangis ketika mencapai halaman 110 ke belakang.
Saya sukses dibuat tersedu dengan ibu Lana, juga bagaimana seorang Lana. Ketika
mencapai bagian itu, saya harus segera menyusut air mata supaya buku saya nggak
sampai basah. Bagian ini benar-benar menunjukkan besarnya cinta ibu kepada
anak. Kalau ingat aja masih suka remuk(?) sendiri. (*backsound bunyi hati
patah)
2.
Remedy
- Biondy Alfian
Saya mendapat novel ini dari buntelan BBI langsung dari
penulisnya (ahzeeekk). Saat itu saya baru bergabung dengan BBI. Tak lama
setelah buku ini mendarat di kamar, saya mulai membaca. Selain tuntutan
buntelan yang kudu direview maksimal sebulan setelah buku sampai, saya juga
penasaran dengan seri YARN ini.
Remedy merupakan novel YARN pertama yang saya baca,
sekaligus menjadi pemicu saya ingin mengoleksi seri ini—meski sekarang seri lain
dari YARN lain yang ada di rak saya masih jadi pajangan.
Seperti review saya di blog, ketika mencapai titik klimaks itu, saya tidak bisa menahan air mata yang tumpah. Sumpah novel ini bikin saya jungkir-balik. Nggak nyangka atas kejadian yang dialami Tania itu seperti itu. Huhu, dia kuat banget ya. Kalau saya yang di posisinya, mungkin udah terjun bebas (ke kolam renang ). T.T (oke… dua buku bikin mewek kejer semua, apakah buku ketiga juga bikin mewek kejer? Mari kita simak..)
3.
Critical
Eleven – Ika Natassa
Iya, saya tahu ini standar. Habis biar gimana pun novel
ini sempat booming luar biasa
beberapa bulan lalu ya. Saya yang bukan penggemar Ika Natassa pun tahu kabarnya
(*salaman).
Untuk novel Ika Natassa pertama yang saya baca, novel ini dibilang yang paling mendingan tata
bahasanya. Saya setuju, karena dulu saat mencoba baca A Very Yuppy Wedding saya
langsung pengen lempar novel itu ngelihat tulisannya (*LOL. Sama duonk).
Perasaan saya digunjang itu pas adegan di kamar bayi
mereka dan kilas masa lalunya. Enggak tahu kenapa saya langsung aja nangis,
padahal kan ya saya belum pernah punya anak. Komitmen aja belum pernah kok.
Tapi saya beneran nangis, hiks.
Memang ya saya selalu lemah sama adegan keluarga, sama genre family. Gampang banget saya nangis
buat adegan-adegan gini, entah sejak kapan. Padahal dulunya tuh lempeng lho.
Haha. :”) (*lempar tisu)
4.
Dulu
Aku Tikus! – Philip Pullman
SAYA SERIUS NGGAK TERIMA SAMA NASIB ROGER. TT.TT
Awalnya baca cerita ini sih lempeng aja, yah, cerita
anak-anak gitu kan ya. Terus begitu masuk ke pertengahan, ketika Roger dibawa
ke sirkus itu … saya mulai misuh-misuh. INI EKSPLOITASI. Saat itu saya pikir
yang dialami Roger sudah cukup parah, sampai masuklah ke bagian Roger disangka
monster dan dibawa ke Istana…..
NOOOO!!! Kenapa orang-orang bisa begitu kejam. DX
Iya, tahu saya lebay, tapi nyatanya saat baca bagian itu tuh mau nggak
mau saya membayangkan hal-hal yang kejadian di sekitar kita. Eksploitasi anak
kecil yang sering kita lihat di pinggir jalan hingga korban perbuatan manusia
yang fotonya bertebaran di timeline
facebook kita. Hiks. Sudahlah.
5.
A Monster Call –
Patrick Ness
Buku ini tipis. Seharusnya dalam satu kali duduk, saya bakal bisa
langsung menyelesaikannya. Namun, nyatanya saya butuh waktu lebih banyak. Semua
ini karena hawa depresi yang langsung nyangkut begitu saya mulai membaca.
Pelan-pelan pembaca mulai ikut digerogoti keputusasaan yang melanda
Conor. Ditulisnya benar-benar dengan pelaaaaaaaaaan. Dan begitu sampai bagian invincible itu…......... sudahlah. :””|
Yah, itu lima buku yang berhasil bikin perasaan saya paling campur-aduk
di tahun 2015 ini. (*Mewek semuaa) Didominasi sama novel lokal bertema
keluarga, ya. Selain lima ini ada The Red Tree-nya Shaun Tan yang bikin
jungkir-balik perasaan begitu dibaca. Itu juga boleh dicoba. Tapi, perasaan apa
pun yang timbul nantinya saya nggak tanggung, ya.
Hmmm, nutupnya gimana ya….
Padahal udah telat kirimnya, jelas-jelas sekarang udah 2016. Kan Buban
mintanya pas Desember 2015. Sudah lewat setahun haha. Tapi masih juga bingung
gimana menutup tulisan ini.
*uhuk* “Yah, nggak sabar menanti buku yang bakal bikin saya nggak karuan
(?) di tahun 2016 ini” kayaknya pas buat kalimat penutup deh. Haha. XD
Terima kasih atas kesediannya, Bub! Terima kasih sudah berlapang dada
menerima tulisan ini. Moga bisa ketemu lagi. Pengen ngobrol sama Kakak dan Adek
(juga nyuil pipinya).
BTW, Wardah.. setelah membaca judul-judul bukunya, judul post ini
seharusnya novel-novel yang bikin mata sembab… ngga cuman campur aduk x____x
Terima aksih udah mau bertamu di sini yaa.. \o/
Tapi buku ke-4 itu aku lebih ke marah daripada sedih, Bub, habis jahat banget ama Roger
BalasHapusBtw, cepet banget udah di-publish aja
kalo buku yg bikin mewek saya 2015 kemarin apa ya? lupaa
BalasHapus